Monday, November 21, 2011

Minat Baca

Hai semua...
Kangen banget buat nulis nih. Bingung mau nulis apa jadi gue mau berbagi tulisan gue buat salah satu lomba yang temanya meningkatkan minat baca di bulan November 2011. Cerita ini adalah true story yang pernah gue alami, hehehe...
Langsung aja yuk baca tulisan gue, enjoy! ^^


Temukan Celahnya

Suatu hari,aku  pulang ke rumah dengan  naik angkutan umum. Di dalamnya hanya ada dua orang ibu berumur sekitar tiga puluhan, sedang asik berbincang-bincang sambil memegang kantung plastik putih. Pojok kanan paling belakang dari bangku merupakan bagian favoritku. Jemariku langsung menekan tombol handphone. Bukan untuk membalas sebuah SMS yang penting, tapi hanya sekadar melihat status baru dari Friendster, sebuah jejaring sosial yang sedang marak di kalangan pelajar SMP seperti diriku ini.
            Selama perjalanan, aku mendengarkan perbincangan kedua ibu tadi. Mereka sedang membahas anak salah satu dari kedua ibu tersebut.
            “Aku suka heran lho Mbak Ratna sama Radit. Dia senang banget membaca buku. Kalau biasanya anak-anak mengisi waktu libur atau luang mereka dengan main, dia malah menetap di kamar sambil baca buku yang naudzubillah tebalnya. Apa gak pusing ya kaya begitu?”
            “Kesenangan orang kan beda-beda Mbak Wanti. Dia mungkin mendapatkan kesenagan dari jalan cerita yang dia baca atau memenuhi rasa ingin tahunya. Biarkan saja”
            “Tapi aku takut kalau dia nanti kurang pergaulan”
            “Gak lah Mbak, biarkan saja dia melakukan hobinya. Malah bagus kan dia punya hobi membaca jadi wawasannya luas”
            Ada sebuah  pertanyaan terlintas di benakku,”Memangnya kesenangan apa sih yang di dapat dari membaca? Lebih asyik nonton film atau sinetron di TV. Ada yang bisa dilihat, ga cuma rangkaian tulisan doang. Hal terpenting adalah  ga perlu bikin otak dan mata lelah”. Sejak saat itu aku  menjadi penasaran untuk menemukan kepuasan tersendiri dalam  membaca buku sehingga pembacanya betah berlama-lama menghabiskan waktu dengannya.
            Hampir setiap hari Jum’at awal bulan, aku dan beberapa teman sekelasku pergi ke Mall. Biasanya, kami menghabiskan waktu untuk foto box, melihat toko kaset, atau jajan makanan ringan bila membawa uang lebih. Aku sendiri sering menyempatkan diri pergi ke toko buku. Awalnya bukan untuk membeli buku, namun untuk melihat kertas surat bergambar terbaru. Aku gemar mengoleksinya. Setelah rasa penasaranku muncul tentang kesenangan dari gemar membaca, akhirnya ku putuskan untuk melihat-lihat buku di toko tersebut. Bagian buku yang ku tuju adalah bagian  biografi.
            Kenapa aku  memilih bagian ini? Pada saat itu aku berpikir bahwa buku-buku seperti itulah yang harus ku baca untuk meningkatkan pengetahuanku di bidang lain, tidak hanya ilmu pelajaran. Tanganku berhenti pada sebuah buku yang mengisahkan biografi dari penulis Indonesia yang fenomenal di era-nya, yaitu Pramoedia Anantatoer. Di buku tersebut juga mengisahkan sedikit biografi dari adik kandungnya, yaitu Soebagyo. Aku mulai membaca biografi singkat dan beberapa lembar isinya. Saat ingin membuka lembar kelima, tanganku menutup buku tersebut. Aku tidak mendapat kesenangan apapun dari buku tersebut kecuali rasa kagumku pada eyang Pramoedia yang tetap menghasilkan  karya yang tangguh meski sedang berada dibalik jeruji besi.
            Sepertinya membaca buku bukanlah bagian dari hobiku. Itu yang ada di otakku pada saat itu. Aku pun jarang main lagi ke bagian buku-buku “berat”, kecuali komik. Lalu pada akhir tahun ketiga, pihak sekolah  mewajibkan para muridnya untuk membuat sebuah sinopsis dari buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah. Nilai sinopsis tersebut akan dijadikan nilai tambahan untuk ujian praktek Bahasa Indonesia. Selain itu, tiga karya terbaik akan  mendapat sertifikat dan hadiah.
            Mendengar hal itu, aku bersemangat. Pada dasarnya, aku suka menulis, namun hanya sebatas curahan hati atau cerita khayalan yang ku tulis di buku diary. Siang hari setelah shalat Dzhuhur, aku pergi ke perpustakaan bersama sahabat baikku. Dia telah mendapatkan buku cerita tipis. Aku masih berputar-putar mencari buku cerita yang cocok. Mataku mencari judul yang menarik di antara jejeran buku yang tersusun rapi. “Suci”, sebuah  judul buku cerita atau lebih tepatnya novel, yang ditarik oleh tangan kananku.
            Sinopsis pendek dari sampul belakang novel Suci membuatku yakin untuk memilih novel tersebut sebagai bahan tugas akhirku. Novel ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang duduk di bangku SMA bernama Suci. Dia mengalami masalah perekonomian yang membuatnyaterjun sebagai penyanyi bar dengan gaji lumayan tinggi. Sejak duduk di kelas 1 SMA, dia memendam  rasa kepada kakak kelasnya bernama Rionaldo, cowok populer di SMA. Pada akhirnya Suci berhenti bekerja sebagai penyanyi bar dan memutuskan untuk menggunakan jilbab. Rionaldo diam-diam  memendam perasaan ke Suci sejak lama. Sebelum Rionaldo lulus dari SMA-nya, dia menawarkan cincin berlian kepada Suci dan memintanya untuk menjadi kekasihnya. Tak disangka, Suci menolak dengan berkata,”Maaf Kak, aku tidak bisa. Saat ini aku hanya ingin menggapai cinta-Nya terlebih dahulu”.
            Air mata menetes deras dari kedua mataku. Ada suatu  perasaan hangat dan kagum atas sosok Suci yang ditampilkan dalam novel tersebut. Cerita hidup tokoh suci membekas di dalam diriku. Keinginanku untuk menutup aurat terpicu dari novel tersebut. Novel Suci inilah yang membuatku sadar akan kesenangan dari membaca sebuah buku. Kesenanganku saat itu ternyata didapat dari buku yang dapat memberi motivasi. Selain kesenangan dari membaca novel tersebut, aku juga mendapatkan kesenangan karena berhasil meraih juara tiga dalam lomba + tugas akhir sinopsis tersebut. Sejak saat itu, aku menjadi gemar membaca novel dan mulai jarang mengikuti perkembangan sinetron di TV.
            Pada saat beranjak ke SMA, aku suka sekali membaca novel, biografi, sejarah, buku motivasi dan komik. Memasuki tahun pertama di SMA, aku mendapat lima orang teman yang enak untuk diajak diskusi, baik diskusi tentang pelajaran maupun hal lainnya. Tak jarang kami membahas hal-hal yang masih diangan-angan namun ilmiah. Hasil perbincangan kami inilah kerap kali menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih bagiku. Untuk itu, aku sering membaca buku-buku di toko buku. Saat itu, aku sudah mulai bisa mendapatkan kesenangan dari membaca buku-buku “berat” seperti biografi, buku pengetahuan alam atau ilmiah.
            Semangatku untuk mendapatkan kesenangan dari membaca buku terpacu juga dari sebuah tayangan televisi. Tayangan tersebut menampilkan sosok Tantowi Yahya yang sedang membaca buku di perpustakaan rumahnya. Banyak sekali koleksi buku beliau. Kesuksesan yang Tantowi Yahya raih merupakan kerja kerasnya didukung dengan wawasannya yang luas. Ada kata-kata beliau yang membuatku ingin menjadi seorang gemar membaca.
            “Buku adalah sumber ilmu dan pengetahuan. Saya bisa seperti ini karena senang membaca buku”.
             Ada lagi pengalamanku saat pergi ke Bromo untuk melihat matahari terbit setahun yang lalu. Jam menunjukkan pukul 04.15. Aku bersama rombongan dari Pare pergi mencari kedai di dekat puncak Bromo untuk menghangatkan tubuh. Ada banyak kedai yang buka saat itu. Kami memilih kedai kelima dari ujung depan. Tidak terlalu banyak pengunjung yang singgah di kedai tersebut. Mataku mendapati ada sebuah keluarga sedang menghangatkan diri mereka di dekat bara api. Keluarga tersebut ternyata berasal dari Belanda. Mereka sedang menghabiskan liburan di Indonesia. Mereka ditemani oleh seorang guide yang berasal dari Purwokerto.
            Pengajarku di lembaga Bahasa Inggris di Pare membuka perbincangan dengan mereka. Mereka sangat ramah untuk ukuran orang asing. Sesekali aku dan teman-temanku yang juga sesama murid di lembaga tersebut, ikut berbicara dengan mereka. Hitung-hitung untuk latihan percakapan dengan native speaker. Kepala keluarga tersebut, sebut saja Mr. Mike, mengatakan bahwa selagi masih menjadi mahasiswa atau pelajar, kita harus menggunakan waktu kita untuk hal-hal yang berguna untuk masa depan.
            Mr. Mike mengatakan bahwa ada tiga hal yang akan membuat kalian bertahan di era globalisasi seperti sekarang ini, yaitu penguasaan bahasa asing, pengetahuan yang luas, dan penguasaan teknologi. Bila ketiga hal tersebut sudah kita pegang, kita akan mudah untuk bisa bersaing dengan tenaga kerja asing, apalagi domestik. Beliau menambahkan bahwa mulai dari sekarang kita sebagai mahasiswa atau pelajar harus rajin membaca buku, minimal beberapa lembar dalam sehari.
            Inilah beberapa kisahku dalam mencari kesenangan membaca buku. Pada awalnya memang terasa menjemukan. Namun bila kalian sudah menemukan celahnya, kalian akan merasakan kesenangan yang berbeda dan ketagihan untuk membaca lebih banyak buku lagi. Saranku, cobalah untuk membaca buku yang kalian senangi jenisnya, entah itu biografi, buku motivasi, roman, novel, dan sebagainya. Dapat pula membaca buku yang berkaitan dengan jurusan kalian sekarang karena itu dapat menambah motivasi dalam membaca.
            Dalam sehari, usahakan untuk membaca sebuah buku, walaupun hanya beberapa lembar saja. Tidak perlu menyediakan waktu khusus. Kalian bisa membacanya saat sedang menunggu kelas kuliah di mulai, mengisi slack time, saat bepergian di angkutan umum, sebelum tidur, dan sebagainya. Apalagi bagi kalian yang senang menulis. Membaca dapat memperkaya kosa kata kita dan memberi inspirasi dalam mengembangkan ide cerita. Ada kata-kata bijak dari Stephen King,”Kalau kau tak punya waktu membaca, kau tak punya waktu untuk menulis”.

No comments:

Post a Comment